Berpikir bagi sebagian orang mungkin merupan suatu hal yang terbiasa dilakukan, namun tanpa disadari pikiran kita ternyata mampu mempengaruhi alam semesta sehingga keinginan kuat dari sebuah pemikiran dapat mewujudkan sesuatu.
Salah aliran yang menganut ajaran ini adalah New Age. Ajaran ini berkembang di Barat dengan sangat pesat karena dilatar belakangi oleh tradisi berfikir yang biasa mereka lakukan. Berikut ini merupakan sejarah lahirnya New Age
Secara literal, New Age Movement adalah gerakan zaman baru, yang oleh Rederic dan Mery Ann Brussat disebut sebagai
“zaman kemelekan spiritual”. Ada semacam arus besar kebangkitan spiritual yang melanda generasi baru dewasa ini,
terutama di Amerika, Inggris, Jerman, Italia, Selandia Baru, dan seterusnya. Ekspresinya beragam; mulai dari cult, sect,
New Thought, New Religious Movement, Human Potentials Movement, The Holistic Health Movement, sampai New Age
Movement. Namun, benang merahnya hampir sama: memenuhi hasrat spiritual yang mendamaikan hati.
Hasrat spiritual inilah yang menjadi ciri khas New Agers (istilah New Agers ini relatif lebih lazim dipakai dalam konteks
gerakan New Age, dibanding misalnya istilah New Age Adherents maupun New Age Believers). Sebagai a new revivalist
religious impulse directed toward the esoteric/metaphysical/spiritualism…, hasrat spiritual New Agers yang secara praktis
adalah a free-flowing spiritual movement, terartikulasi ke berbagai manuskrip metafisika-spiritualitas (Manuskrip
Celestine, baik The Celestine Prophecy maupun The Celestine Vision, Sophia Perennis yang menjadi filsafatnya New
Agers, paradigma The Tao of… yang sangat ekspresif menjadi trend penerbitan judul buku-buku ilmiah dan populer, The
Aquarian Conspiracy yang menjadi buku pegangan New Agers, hingga merambah ke “pendidikan spiritual” dan bahkan
klinik-klinik spiritual dengan beragam variasinya.
Sebagaimana disinggung sepintas oleh Naisbitt dalam Megatrend 2000, In turbulent times, in times of great change,
people head for the two extremes: fundamentalism and personal, spiritual experience… With no membership lists of even
a coherent philosophy or dogma, it is difficult to define or measure the unorganized New Age movement. But in every major
U.S. and European city, thousands who seek insight and personal growth cluster around a metaphysical bookstore, a
spiritual teacher, or and education center.
Oleh karena itu, seperti sudah menjadi fakta yang tak terbantahkan adalah adanya gerakan masif dari generasi New Age
yang selalu menyebut-nyebut dirinya sebagai flower generations, berkiblat pada mainstream spiritualitas, mulai dari
kegemaran menyelami Manuskrip Celestine sampai mengalami apa yang menjadi tradisi spiritual New Agers sebagai
spiritual gathering dengan berbagai variasi mistik-spiritualnya.
Gerakan yang dimulai di Inggris tahun 1960-an ini, antara lain dipelopori Light Groups, Findhorm Community, Wrekin
Trust. Ia menjadi sangat cepat mendunia berskala internasional, terutama setelah diselenggarakan seminar New Age
oleh Association for Research and Enlightenment di Amerika Utara, dan diterbitkannya East West Journal tahun 1971 yang
dikenal luas sebagai jurnalnya New Agers. Yang agak sensasional dari gerakan New Age ini adalah setelah disiarkan via
televisi secara miniseri Shirley MacLaine Out on a Limb, bulan Januari 1987.
Ekspansi New Age menjadi populer dan fenomenal pada dasawarsa 1970-an sebagai protes keras atas kegagalan
proyek Kristen dan sekulerisme dalam menyajikan wawasan spiritual dan petunjuk etis menatap masa depan.
Pertama, di lingkungan gereja Kristen, misalnya, kita sulit menghapus ingatan masa lalu saat Gereja menerapkan doktrin
extra ecclesiam nulla salus. No salvation outside the Church. Tidak ada keselamatan di luar Gereja. Bukankah ini cermin
watak Gereja yang sarat claim of salvation? Bukankah claim of salvation tidak saja mengakibatkan sikap menutup diri
terhadap kebenaran agama lain, tetapi juga berimplikasi serius terhadap konflik atas nama agama dan Tuhan. Karena itu,
“keselamatan” itu tidaklah penting di kalangan New Age. Sebab, New Agers lebih percaya prinsip Enlightenment, di mana
muncul kesadaran spiritualitas di kalangan New Age bahwa manusia dapat tercerahkan, menjadi sacred self, karena
pada kenyataannya manusia adalah divine secara intrinsik (persis konsep fithrah dalam Islam). Paham inilah yang
akhirnya menjadikan “pantheisme” begitu fenomenal di kalangan New Age.
Kedua, protes New Agers atas hilangnya kesadaran etis untuk menatap masa depan. Oleh karena itu, salah satu
manuskrip terpenting yang menjadi wawasan etis New Agers dalam menatap masa depan adalah The Art of Happiness,
New Ethic for the Milllenium karya Dalai Lama. Sebagai alternatif dari protesnya terhadap kegagalan gereja Kristen dan
sekulerisme dalam menyajikan wawasan spiritual dan petunjuk etis menatap masa depan, maka New Agers menoleh
pada spiritualitas baru lintas agama. Kita tahu, betapa New Agers begitu kuat berpegang pada prinsip spirituality: the heart
of religion.
Dalam dunia metafisika dikenal adanya konsep makro dan mikrokosmos. Mikrokosmos adalah alam yang di bentuk dalam otak manusia sedangkan makrokosmos adalah alam semesta dimana kita tinggal. Mikrokosmos tidak dapat berdiri sendiri tanpa adanya makrokosmos. Pemahaman awal manusia hanya makrokosmoslah yang dapat mengarahkan bahkan menginterferensi mikrokosmos. Hal ini memang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Namun bisakah mikrokosmos mempengaruhi makrokosmos? Penelitian dilakukan bertahun-tahun dilakukan untuk membuktikannya. Hasil yang telah di dapat yakni setiap manusia berfikir dia membangkitkan RAC (Rectangular Activating System) yakni gelombang yang di pancarkan oleh otak ke alam semesta.
Akibat pemahaman baru ini timbul revolusi dari definisi do’a. Penganut Aliran New Age cenderung menuhankan pikiran mereka. Hal ini terjadi karena kurangnya pemahaman terhadap agama yang mereka anut. Semua tidak terlepas dari adanya tuhan karena Tuhanlah pencipta makro dan mikro kosmos serta interaksi di dalamnya. Begitu demokratis Tuhan menciptakan Alam semesta beserta isinya sehingga pada suatu ajaran disebutkan “Tuahan itu berdasarkan pada kecenderungan hatimu”. Berdoa dengan segenap energi tercurah pada pikiran memang menimbulkan efek yang lebih namun Tuhan masih sangat berperan dalam interaksi antara makrokosmos dan mikrokosmos.